Selasa, 09 Agustus 2011

Menatap Fajar di Puncak Gunung Sikunir - Dieng

Dua bulan lebih mengurusi pembangunan rumahku, dimana kejenuhan sudah melanda, karena selama 2 bulan tersebut berkutat dengan urusan material yang kadang membuat pikiran. Tapi dibalik semua itu ada hikmah yang bisa didapat. Untuk menghibur diri setelah pembangunan rumah tahap I selesai, akhirnya terlintas pikiran untuk berlibur ke Gunung Galunggung. Saat sudah menentukan tujuan, ternyata teman – teman saya yaitu mbak Mega dan Marcil yang sudah memiliki tiket pesawat mengajak saya pergi ke Dieng. Pikiran pun berubah, akhirnya Dieng menjadi tujuan liburan kali ini. Menyaksikan matahari terbit adalah keinginan yang sampai saat ini belum terwujud. Akhirnya, dengan membujuk mereka, keinginan itu terwujud.
Tanggal 13 Mei 2011, dengan menggunakan bus Sinar Jaya, saya berangkat menuju kota Wonosobo. Pukul 18.00,bus pun berangkat meninggalkan terminal Kampung Rambutan. Perjalanan kali ini merupakan perjalanan terlama karena macet, sehingga yang seharusnya sampai di Wonosobo tanggal 14 Mei 2011 pukul 06.00, akhirnya sampai pukul 12.00. Rencana perjalanan yang sudah dibuat dari Jakarta berubah semua. Kali ini, kami harus berjalan kaki menuju Plaza yaitu terminal bus yang akan membawa kami ke Dieng, dimana waktu yang ditempuh dari Wonosobo ke Dieng adalah 1,5 jam. Tetapi perjalanan tersebut tidak terasa, karena kami ditemani dengan pemandangan yang indah.

Sampai di Pondok Lestari, homestay kami menginap. Kami disambut dengan ramah oleh Pak Sukur sebagai pemilik homestay. Saya memang sudah dua kali menginap disini, jadi sudah kenal dengan pemiliknya. Setelah nego dengan Pak Sukur untuk menyewa mobil, maka kami langsung memulai perjalanan mengelilingi candi Dieng. Tujuan pertama adalah telaga warna, pastilah kami berfoto yang merupakan agenda kami. Dari telaga warna, candi semar menjadi tujuan berikutnya.
Kali ini kami kurang beruntung, hujan akhirnya turun dari gerimis menjadi deras, tapi hal ini tidak mematahkan semangat kami untuk tetap menyusuri wilayah Dieng. Hujan pun semakin deras.

Untuk mengejar waktu, kami menyaksikan teater Dieng Plateu terlebih dahulu, karena teater akan tutup pukul 15.00. Didalam teater, kami menyaksikan film yang menceritakan kejadian Dieng yang mengeluarkan asap beracun sehingga memakan korban banyak.


Lagi-lagi hujan turun sangat deras, sehingga kami sempat menunggu dulu didalam mobil yang kami sewa. Tujuan kami berikutnya adalah Candi Bima, disini hujan kembali deras, sehingga kami berteduh di Dieng dan tak lupa berfoto dengan berlatar belakang hujan.


Hujan tak menyurutkan semangat kami untuk tetap mengabadikan diri. Dari Candi Bima, kami ke kawah Sikidang, disini kawah makin lama makin besar, jadi kalau berkunjung kesini, lebih baik mengikuti jalan pavling block,


karena tanah sangat gembur yang tanpa kita ketahui bisa muncul kawah – kawah berikutnya. Disini kami mengabadikan diri dengan berlatar belakang asap yang keluar dari kawah. Ternyata perut kami sudah tidak bisa berkompromi lagi, rasa lapar sudah menghinggapi kami, karena memang kami belum makan siang. Dengan arahan dari pak Kodam (guide yang membawa kami yang merupakan anak Pak Sukur), kami menemukan tempat makan di sekitar komplek Candi Arjuna.

Di warung makan ini, saya mencoba minuman khas Dieng yaitu Purwaceng (rasanya seperti jahe),
dan menghangatkan tubuh. Lagi-lagi hujan turun,

sepertinya hujan ini datangnya setengah-setengah.Setelah perut terisi, kami melanjutkan perjalanan kami mengelilingi kompleks candi Arjuna. Ada satu spot foto yang menurut saya indah sekali yaitu ketika foto di candi, bulan berada tepat diatas kami. Wah rasa kagum dan rasa syukur menyelimuti kami, bahwa Tuhan sungguh baik dengan menciptakan alam yang indah ini.


Minggu, 15 Mei 2011, Pukul 04.00, kami sudah bersiap diri menuju Puncak Gunung Sikunir yang harus ditempuh sejauh 7 km. Dengan mobil yang kami sewa, selama hampir 1 jam perjalanan kami sampai di pos pendakian.

Kami membayar retribusi sebesar Rp.10,000. Pendakian pun kami mulai, jalan terjal dan sempit kami lalui dan jangan sampai lengah, karena di samping kami adalah jurang. Bekal pengalaman mendaki Gunung Ijen di Bondowoso dimana jarak pendakian lebih panjang akhirnya kami berhasil sampai di puncak gunung. Lelah kami pun terbayar. Matahari pun belum terbit, sehingga kami
menggunakan waktu untuk mengabadikan diri. Makin lama matahari pun mulai menampakkan diri. Tak lupa kami bersyukur karena hari itu diberikan hari yang cerah oleh Yang Mahakuasa. Semakin lama, matahari pun semakin turun dan semakin jelas, bahwa Gunung Sikunir berhadapan dengan Gunung
Sindoro – Sumbing, kami pun berfoto berlatarbelakang kedua gunung tersebut.

Setelah puas menikmati karunia alam di puncak Gunung Sikunir, kami pun melangkah turun untuk melanjutkan perjalanan kami.


Turun dari puncak Gunung Sikunir terdapat telaga cebong,
telaga yang sangat tenang yang berada di ketinggian,

kemudian kami menyempatkan diri ke mata air bimolukar

yang menurut mitos bisa membuat awet muda bagi yang mencuci muka disana. Airnya segar dan dingin.

Sampai dibawah tak lupa kami makan Mie Ongklok di kedai Longkrang.

Perjalanan pun kami lanjutkan ke Magelang dengan bus.



























Bersambung ke perjalanan Pantai Kukup, Krakal dan Baron

Tidak ada komentar:

Posting Komentar